Antenatal Care (ANC) Pemeriksaan Untuk Ibu Hamil

Antenatal Care (ANC) Pemeriksaan Untuk Ibu HamilAntenatal Care (ANC) Pemeriksaan Untuk Ibu Hamil

Apa itu Antenatal Care?

Pengertian dari antenatal care adalah suatu program yang direncanakan untuk melakukan observasi, pendidikan kesehatan, serta praktik medis pada ibu hamil, yang tujuannya yaitu untuk mendapatkan proses kehamilan dan persalinan yang aman dan memuaskan.

Antenatal care merupakan pemeriksaan yang sangat penting untuk memantau dan mendukung kesehatan ibu hamil yang sehat dan kehamilan yang normal. Ibu hamil disarankan untuk menemui perawat maternitas, bidan atau dokter kandungan sebagai tempat perawatan dan pemeriksaan antenatal care.

Antenatal care merupakan bentuk pelayanan kesehatan oleh para profesional (spesialis kandungan, dokter umum, perawat maternitas, serta bidan) untuk ibu selama masa kehamilannya, sesuai dengan standar minimum perawatan antenatal care yang mencakup 5T yaitu antara lain (t)imbang berat badan, ukur (t)inggi badan, ukur (t)ekanan darah, pemberian imunisasi (t)etanus TT, ukur (t)inggi fundus uteri dan pemberian (t)ablet suplemen zat besi selama kehamilan.

Apa Tujuan dari Antenatal Care?

Tujuan dari dilaksanakannya antenatal care ialah:

(1) Untuk menjaga agar ibu tetap sehat selama kehamilan, persalinan dan masa nifas serta mengupayakan agar bayi lahir dengan selamat dan sehat.

(2) Untuk memantau indikator risiko penyulit kehamilan yang mungkin muncul, dan merencanakan tindakan yang sesuai untuk kehamilan risiko tinggi.

(3) Untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas pada ibu hamil dan perinatal (janin atau bayi yang dikandung).

Kapan Saja Jadwal Kunjungan untuk Antenatal Care?

Idealnya adalah sampai usia kehamilan 28 minggu dilakukan 1 kali per bulan, pada usia kehamilan 29-36 minggu dilakukan setiap 2 minggu, dan saat usia kehamilan di atas 36 minggu dilakukan sekali seminggu.

Apa Saja Pemeriksaan yang Dilakukan Saat Antenatal Care?

Status Generalis

Yang termasuk ke dalam pemeriksaan umum atau status generalis adalah:

(1) Penilaian keadaan umum, kesadaran, tingkat komunikasi atau kooperasi.

(2) Tanda vital (tekanan darah, denyut nadi, suhu, pernapasan), tinggi badan serta berat badan ibu. Kemungkinan risiko tinggi adalah pada ibu dengan tinggi badan kurang dari 145 cm atau berat badan kurang dari 75 kg. Batas hipertensi pada kehamilan adalah 140/90 mmHg (nilai diastolik lebih berguna untuk memprediksi sirkulasi pada plasenta).

(3) Ada atau tidak adanya sakit kepala (sakit kepala karena anemia, sakit kepala di bagian depan, tension headache atau sakit kepala seperti ditekan, serta sakit kepala yang berdenyut pada suboksipital).

(4) Melihat apakah konjungtiva mata anemis (pucat) atau tidak, dan sklera ikterik (kekuningan) atau tidak.

(5) Pada pemeriksaan mulut dan THT apakah ada tanda-tanda peradangan atau tidak, apakah ada perdarahan gusi, serta pemeriksaan pada gigi-geligi.

(6) Pemeriksaan menyeluruh IAPP (inspeksi, auskultasi, perkusi, palpasi) pada thoraks (paru dan jantung) serta abdomen (perut).

(7) Pemeriksaan ekstremitas untuk melihat apakah ada edema, pucat, sianosis, varises, serta kesimetrisan (kecurigaan ada polio yang mungkin ditunjukkan oleh adanya kelainan pelvis).

(8) Jika ada luka terbuka atau fokus infeksi lainnya harus dikendalikan dan dilakukan tindakan pengelolaan segera.

Status Obstetri

Pemeriksaan obstetrikus pada perut:

Apakah sudah membesar atau tidak (pada kehamilan muda, pembesaran perut mungkin belum tampak).

Pemeriksaan Manuever Leopold yang dilakukan secara sistematis, yaitu:

(1) Leopold I
Tentukan tinggi fundus uteri dan sentuh bagian janin pada fundus dengan kedua telapak tangan. Menentukan tinggi fundus uteri pada kehamilan muda ialah dengan palpasi bimanual dalam, sementara pada kehamilan yang sudah besar dilakukan dengan mengukur jarak antara fundus uteri dengan bagian atas simpisis pubis (tulang kemaluan) menggunakan pita pengukur.

(2) Leopold II
Telapak tangan kiri menekan uterus dari bagian kiri dan kanan, kemudian jari mengarah ke kepala pasien untuk kemudian meraba bagian samping uterus apakah agak lebar dan datar (yang menunjukkan bagian punggung janin), atau teraba tidak simetris (yang menunjukkan bagian ekstremitas janin), atau malah teraba keras dan bulat (yang menunjukkan kepala janin). Leopold II ini biasanya dilakukan untuk menentukan puka-puki (apakah punggung janin di sebelah kanan atau kiri).

(3) Leopold III
Satu tangan menyentuh bagian bawah uterus (di atas simpisis pubis ibu) sementara yang lainnya memegang fundus untuk fiksasi. Kemudian tentukan apa presentasi dari bagian bawah uterus, jika ia bulat dan keras maka ia adalah kepala, jika bukan maka ada kemungkinan janin sungsang atau posisi tidak tepat.

(4) Leopold IV
Kedua tangan memegang bagian bawah rahim dari kiri ke kanan, jari-jari mengarah ke kaki pasien, tindakan ini dilakukan untuk mengkonfirmasi bagian bawah janin dan menentukan apakah bagian ini sudah masuk ke dasar panggul atau belum (biasanya dengan x / 5)

Dengan pemeriksaan palpasi ini, bisa juga diperkirakan berat janin (meskipun hanya sebagai taksiran). Pada kehamilan yang aterm, dapat digunakan rumus Johnson Tossec yaitu: tinggi fundus tinggi (cm) – (12/13/14) x 155 gram.

Pemeriksaan auskultasi menggunakan stetoskop Laennec atau alat Doppler yang diletakkan di area belakang janin (punggung janin), hitung frekuensi denyut jantung janin dalam 5 detik pertama, 5 detik ketiga, dan 5 detik kelima, lalu dijumlahkan dan dikalikan dengan 4 untuk mendapatkan frekuensi satu menit.

Namun sebaiknya jika memungkinkan, penghitungan DJJ (detak jantung janin) yang ideal adalah yang dihitung tepat selama satu menit. Batas denyut jantung janin yang normal adalah 120-160 denyut per menit. Takikardia menunjukkan adanya reaksi kompensasi terhadap beban atau stres pada janin (fetal stress) sedangkan bradikardia menunjukkan adanya kondisi kegagalan kompensasi beban atau stress pada janin (fetal distress / gawat janin).

Pemeriksaan Genitalia Eksterna

Inspeksi genitalia eksternal:

Lihat keadaan vulva / uretra, apakah ada tanda inflamasi, luka atau pendarahan, discharge (cairan vagina), serta kelainan lainnya. Pemeriksa dapat menggunakan kedua jari untuk memisahkan labia (membuka vulva) agar inspeksi lebih jelas.

Untuk inspeksi yang lebih dalam, dapat digunakan alat spekulum. Caranya, kedua jari pemeriksa membuka vulva lalu alat spekulum dimasukkan ke dalam vagina dengan bilah vertikal lalu saat berada di dalam putar 90 derajat agar posisinya menjadi horizontal di dalam vagina, lalu kemudian dilakukan pembukaan vagina dengan alat spekulum tersebut.

Dengan inspeksi dalam ini, dapat diketahui kondisi dari portio serviks (bagaimana permukan dan warnanya), kondisi ostium, ada atau tidak adanya darah / carian / discharge di forniks. Dapat dilihat juga kondisi dinding dalam vagina, apakah ada tumor atau tidak, apakah ada tanda peradangan atau tidak. Untuk melepas spekulum, spekulumnya ditutup terlebih dahulu saat posisi horizontal, kemudian diputar menjadi vertikal, lalu kemudian dikeluarkan dari vagina.

Pemeriksaan Genitalia Interna

Palpasi: dilakukan colok vagina (vagina touché) dengan dua jari dengan satu tangan dan bimanual dengan tangan satunya menyentuh fundus dari luar perut. Tentukan konsistensi, ketebalan, arah, serta adanya atau tidaknya pembukaan serviks. Periksa juga ada atau tidaknya kelainan pada rahim dan adneksa yang ditemukan.

 

Recent Post