BIAYA SETELAH PAJAK

BIAYA SETELAH PAJAK

BIAYA SETELAH PAJAK
BIAYA SETELAH PAJAK
Contoh keputusan manajemen yang dapat diambil untuk mengurangi hasil penjualan dengan tujuan meringankan beban pajak adalah dengan melakukan pengeluaran yang berhubungan langsung dengan kegiatan usaha. Pengeluaran biaya tersebut dilakukan dalam rangka mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan serta didukung dengan bukti yang memadai (valid & reliable) dalam hal ini kegiatan tersebut adalah kegiatan pemasaran dan promosi dari sebuah perusahaan terhadap produknya.
Misalkan Perusahaan ABC dan XYZ sama-sama mempertimbangkan untuk menaikkan gaji para karyawannya yang berjumlah keseluruhannya Rp 30.000.000,00. Bagi perusahaan ABC dan XYZ biaya langsung atau biaya sebelum pajak (pre-tax cost) adalah sama besarnya, yaitu masing-masing Rp 30.000.000,00 yang dapat dikurangkan dari penghasilannya, akan tetapi biaya setelah pajaknya akan berbeda-beda tergantung kepada tarif marjinalnya. Apabila diasumsikan tarif marjinal perusahaan ABC adalah 10%, sedangkan XYZ menanggung beban pajak atas dasar tarif marjinal 30%, maka kenaikan beban pajak kedua perusahaan tersebut tidak akan sama.
  • Pajak yang dapat dihemat perusahaan ABC hanyalah 10% x Rp30.000.00,00 = Rp3.000.000,00, sedangkan perusahaan XYZ dapat menghemat sebesar 30% x Rp30.000.000,00 = Rp9.000.000,00.
  • Dengan demikian berarti, bagi perusahaan ABC jumlah biaya setelah pajaknya (after-tax cost) adalah Rp (30.000.000,00 – 3.000.000,00) = Rp27.000.000,00 dan perusahaan XYZ berjumlah RP (30.000.000,00 – 9.000.000,00) = Rp21.000.000,00.

 

Melihat ilustrasi tersebut di atas, terlihat bahwa untuk kepentingan pengambilan keputusan perlu adanya pembedaan antara tarif pajak rata-rata (average tax rate) dan tarif pajak marjinal (marginal tax rate). Tarif pajak rata-rata memperlihatkan perbandingan (rasio) antara jumlah pajak terutang dengan penghasilan kena pajak, sedangkan tarif pajak marjinal merupakan tarif pajak atas rupiah terakhir dari penghasilan yang dikenakan pajak.