Dari Insight ke Inspirasi

Dari Insight ke Inspirasi

Dari Insight ke Inspirasi
Dari Insight ke Inspirasi

Riset, apapun jenisnya, pada dasarnya dimulai dari sebuah kegiatan pengumpulan data. Data ini masih berupa bahan mentah, yang tidak memberikan informasi apa-apa. Jika data dikumpulkan, diproses, dan dikomunikasikan lalu dikirimkan kepada pihak penerima berdasarkan pada konteks atau kerangka acuan bersama, data ini akan menjadi informasi yang berharga.

Lalu, jika informasi yang diproses dapat menciptakan kecerdasan (intelligence), informasi ini akan membentuk apa yang disebut pengetahuan (knowledge atau experiential information). Dan akhirnya, jika pengetahuan ini kemudian dianalisis dengan juga mengacu kepada akumulasi pengalaman dan intuisi dari para periset, pada akhirnya hasil riset tersebut menjadi insight yang bermanfaat bagi penggunanya.

Secara umum, alur inilah—data-informasi-pengetahuan-insight—yang jamak berlaku dalam proses riset. Insight menjadi hasil akhir dari keseluruhan sebuah program riset.

Pada tingkat informasi dan pengetahuan, karena umumnya berupa fact-finding, fakta statistik dan data keras lainnya yang lebih bersifat kuantitatif, hasilnya juga mudah didapat oleh banyak orang.

Ketika bergerak ke tingkat insight, mulailah dikembangkan sejumlah hipotesis. Dianalisis juga implikasi-implikasi yang mungkin terjadi dari sejumlah hipotesis tersebut. Jadi, jika pada tingkat sebelumnya sifatnya lebih kuantitatif, pada tingkat insight ini sudah melibatkan intuisi dan penilaian yang lebih bersifat kualitatif.

Namun, bagi saya, insight saja tidak cukup. Insight hanya bermakna pasif, yang kurang akan ada maknanya jika tidak ditindaklanjuti dengan adanya tindakan-tindakan nyata. Karena itu, hasil akhir sebuah program riset harus mampu memberikan inspirasi kepada seluruh pihak yang terlibat dan berkepentingan untuk mengembangkan produk baru, mengembangkan strategi atau menciptakan iklan yang memorable misalnya.

Inspirasi ini akan mampu mentransformasi atau mengubah orang. Inspirasi akan mampu menuntun orang untuk menyadari aspirasi mereka dan lalu membantu mereka untuk bertahan dalam perubahan yang terjadi setiap saat. Dengan adanya inspirasi, orang akan melakukan sesuatu yang berbeda yang diharapkan hasilnya akan lebih baik daripada yang telah ada sekarang.

Agar mampu bergerak dari insight ke inspirasi memerlukan interpretasi yang kreatif. Maka, insight harus diorganisasikan sedemikian rupa sehingga menjadi jelas dan mudah dipahami oleh pihak-pihak yang dituju. Karena itu, dari insight ke inspirasi, peranan komunikasi sangatlah penting.

Hasil riset yang biasanya dituangkan dalam bentuk laporan tertulis dan kemudian dipresentasikan di hadapan klien, haruslah dikomunikasikan sedemikian rupa sehingga klien mampu benar-benar memahami apa yang ingin disampaikan. Sistematika penulisan laporan dan pemaparan oleh tim riset di hadapan klien haruslah dibuat dalam ”bahasa” yang sedapat mungkin dimengerti oleh semua pihak. Jangan lupa bahwa di pihak klien ada banyak orang dari berbagai level dengan berbagai kompetensi, seperti jajaran direksi, brand manager, product manager, advertising agency, dan sebagainya yang tidak semuanya mengerti ”bahasa” riset.

Dalam banyak kesempatan, termasuk juga pengalaman saya sendiri selama memimpin MarkPlus Research, klien lebih banyak disuguhi oleh metode-metode riset, validitas metode yang digunakan, temuan-temuan yang bersifat kuantitatif, dan sebagainya. Klien lebih banyak disuguhkan proses, bukan hasil. Padahal, sebenarnya klien tidak terlalu berkepentingan terhadap proses riset yang dijalankan. Yang paling mereka butuhkan adalah insight yang mampu memberikan inspirasi kepada mereka untuk bertindak.

Namun, masalah ini bukan sepenuhnya menjadi kesalahan research agency. Tidak jarang pihak klien sendiri yang lebih banyak mempertanyakan metodologi dan validitas riset yang dijalankan ketimbang insight yang didapatkan. Diskusi tentang proses riset ini kadang menghabiskan lebih banyak waktu daripada diskusi tentang insight yang didapat dan tindak-lanjut dari insight itu sendiri.

Maka, temuan riset ini harus bisa dikomunikasikan dengan semenarik mungkin agar mampu membuat orang merasa terinspirasi. Tidak ada salahnya jika orang-orang riset belajar membuat laporan riset yang menarik kepada para desainer grafis atau belajar gaya berbicara atau presentasi kepada orang-orang sales misalnya. Desainer grafis mampu menyajikan visual yang menarik, sedangkan orang-orang sales umumnya lebih memiliki kemampuan persuasif dibanding mereka yang berada di bidang non-sales.

Atau, bisa juga dalam tim riset Anda mengikutsertakan orang-orang yang memiliki latar-belakang psikologi, etnografi, dan sebagainya yang memiliki ketrampilan yang baik dalam mengamati dan menginterpretasikan perilaku orang. Dengan demikian, klien pun bisa mendapatkan inspirasi, bukan sekadar insight, dari riset yang Anda lakukan.

Sumber : https://belinda-carlisle.com/frontline-shooter-apk/