jembaTan

jembaTan

jembaTan

Mbah Karim sering terlihat resah beberapa hari terakhir ini. Ia belum juga menemukan nama untuk kelompok pengajian yang baru didirikan sebulan lalu: nama yang tidak kearab-araban, karena ia menghindarkan kesan bahwa Islam itu Arab. Ia ingin nama yang sepenuhnya mencerminkan Indonesia, bahkan njawani kalau perlu. Nama itu harus sederhana dan mudah diingat, namun sangat dalam maknanya. Pernah terbersit nama turangga. Turangga dalam bahasa Jawa artinya kuda: kendaraan yang akan mengantarkan kelompok pengajian ke hadapan Tuhan, tetapi ia urung memakai nama itu. Nama turangga sudah dipakai oleh kelompok jaranan dari Tulungagung.

Ia sudah melakukan berbagai upaya. Istikharah dan istighatsah dengan penuh istiqamah tanpa istirahat sudah ia lakukan di seluruh separuh awal Ramadhan ini, tetapi nama yang baik belum juga datang. Sepertinya Tuhan lebih memerhatikan para santri baru yang menumpahruahi mushala, masjid, televisi, dan toko-toko kaset lagu islami di bulan Ramadhan ini daripada memberi sedikit inspirasi bagi seorang kakek tua yang sudah terbukti kualitas ibadahnya selama puluhan tahun.

Ternyata Tuhan tidak pernah benar-benar mengabaikan setiap makhluknya. Lewat si Ja’im, anggota kelompok pengajian yang agak bengal, seorang mantan mahasiswa, Tuhan memberikan inspirasi kepada Mbah Karim.

”Saya punya ide, Mbah. Bagaimana kalau kelompok pengajian kita diberi nama jembut saja?”
Mbah Karim terbelalak kaget, mengernyitkan kening, lalu bersiap-siap marah. Tetapi belum sampai ia meluapkan amarah, Ja’im segera menjelaskan idenya panjang lebar.
”Jangan terburu marah dan menolak dulu, Mbah. Itu tidak baik.”

“Saya tidak sembarangan mengusulkan nama jembutT: j, e, m, b, u, t kecil, T besar, akronim dari Jemaah Butuh Tuhan. Ini sebuah nama dengan makna yang sangat dalam. Semua huruf ditulis kecil, kecuali t terakhir. T terakhir ini menunjukkan Tuhan. Semua yang ada di alam ini, termasuk manusia, setinggi apapun pangkat dan derajatnya, sangat kecil, debu, di hadapan kebesaran Tuhan Yang Mahabesar.”

“Bukankah nama itu sangat berkait dengan kata yang sangat tabu untuk disebutkan?”, sergah Mbah Karim. Ia mulai penasaran.

“Justeru itulah letak kedalaman maknanya, Mbah. Tuhan itu untuk dan dibutuhkan semua orang, termasuk mereka yang ditabukan oleh sejarah, kebudayaan, dan peradaban untuk disebutkan. Para bromocorah, budak, petani, buruh, PSK, ….semuanya berhak membutuhkan Tuhan dan mendapat kasih sayang-Nya.”

“Kata ini juga menunjukkan bagian tubuh yang selalu ditutupi oleh manusia waras, tentu saja kecuali dalam keadaan tertentu. Ini juga mengandung makna yang sangat dalam. Ibadah dan kecintaan kita kepada Tuhan tidak perlu dipamerkan kepada orang lain.”
“Ada lagi?”, tanya Mbah Karim.

“Tentu, Mbah. Bukankah berdasarkan prinsip kehati-hatian, jembut selalu ikut kita siram dan bersihkan waktu beristinja’. Setiap kali terkena najis, bagian itu kita bersihkan. Manusia adalah tempat salah dan lupa. Manusia yang baik bukanlah manusia tanpa kesalahan, tetapi manusia yang selalu segera menyadari kesalahan, bertobat, dan memperbaikinya.”
“Wah ternyata bagus sekali ya nama ini,” kata Mbah Karim.

Sumber : https://belinda-carlisle.com/magic-nightfall-apk/