Jenis-Jenis Konsumsi

Jenis-Jenis Konsumsi

Jenis-Jenis Konsumsi
Jenis-Jenis Konsumsi
Di dalam ilmu ekonomi perilaku konsumsi, yakni rumah tangga keluarga, rumah tangga perusahaan, dan rumah tangga negara, yang dimana masing-masing memiliki jenis dan pola konsumsi yang berbeda sesuai dengan kebutuhan.

a. Kegiatan konsumsi rumah tangga

Rumah tangga keluarga umumnya terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anaknya. Keluarga adalah sekelompok orang yang dipersatukan oleh pertalian darah. Keluarga ini merupakan sekumpulan orang yang tinggal dalam satu rumah sebagai unit terkecil dalam suatu masyarakat.
Keluarga merupakan kelompok yang sering melakukan kegiatan konsumsi. Setiap anggota keluarga mempunyai kebutuhan yang berbeda baik dilihat dari jumlah maupun ragamnya. Misal; kebutuhan anggota keluarga dapat berupa makanan dan pakaian, sedangkan kebutuhan keluarga adalah rumah, listrik maupun telepon. Tingkat konsumsi suatu keluarga dapat berbeda dengan keluarga lainnya.
Perbedaan ini dipengaruhi faktor pendapatan, jumlah anggota keluarga, gaya hidup, latar belakang pendidikan, atau lingkungan tempat tinggal. Setiap rumah tangga berupaya sedemikian rupa dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan. Setiap rumah tangga sebaiknya selalu menyelaraskan antara tingkat pendapatan dengan tingkat pengeluaran.
Rumah tangga keluarga sebaiknya membuat perencanaan pengeluaran dengan menyusun anggaran pendapatan dan belanja keluarga agar tidak terjadi defisit anggaran.
Pendapatan adalah penambahan kemampuan daya beli seseorang yang diperoleh dari pengorbanan tertentu. Adapun pengeluaran adalah biaya yang akan dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan.
Pendapatan Keluarga
  • Gaji, adalah pendapatan yang bersifat kontinu/terus menerus dan dalam jumlah relatif tetap sebagai balas jasa dari suatu pekerjaan formal.
  • Upah, adalah pendapatan yang bersifat tidak menentu dan dalam jumlah yang relatif berbeda sebagai balas jasa dari pekerjaan nonformal.
  • Sewa, adalah pendapatan dari pemanfaatan sumber daya.
Pengeluaran keluarga
  • Pengeluaran rutin, mencakup biaya untuk makanan, listrik, telepon, pajak, dan biaya pendidikan.
  • Pengeluaran insidental, mencakup biaya untuk kebutuhan yang muncul sewaktu-waktu, seperti  biaya dokter, perbaikan kendaraan, dan sumbangan.

 

b. Kebutuhan konsumsi perusahaan

perusahaan merupakan tempat berlangsungnya proses produksi. Pada saat memproduksi barang, perusahaan ini memerlukan bahan baku, tenaga kerja, dan modal. Pada saat perusahaan ingin menghasilkan barang atau jasa maka perusahaan mengkonsumsi bahan baku, mesin, dan jasa tenaga kerja. Perusahaan dalam hal ini bukan hanya melakukan kegiatan produksi akan tetapi juga melakukan kegiatan konsumsi. Dalam melakukan kegiatan konsumsi yang ditujukan untuk menghasilkan barang/jasa, perusahaan harus menekan pengeluarannya agar dapat menekan biaya  produksi.

Apabila biaya produksi dapat ditekan maka biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan barang atau jasa itu rendah sehingga berakibat pada harga barang menjadi murah. Apabila perusahaan tidak mampu menekan biaya produksi maka harga barang menjadi mahal.
Perusahaan dapat menekan biaya produksi dengan membeli/menggunakan bahan baku yang murah, menggunakan tenaga kerja yang terampil, atau dapat juga menggunakan teknologi yang tinggi sehingga dapat menghasilkan barang dalam jumlah banyak dengan kualitas yang baik.
Apabila rumah tangga melakukan kegiatan konsumsi barang atau jasa yang dihasilkan perusahaan, maka konsumsi perusahaan dengan tujuan untuk menghasilkan barang atau jasa.

c. Kegiatan konsumsi negara

Pada dasarnya sama dengan perusahaan, negara bertindak sebagai produsen sekaligus sebagai konsumen. Tujuan konsumsi negara berbeda dengan rumah tangga keluarga dan perusahaan. Konsumsi negara bertujuan untuk memenuhi atau melayani kebutuhan masyarakat. Biaya yang digunakan untuk konsumsi negara berasal dari masyarakat. Setiap pengeluaran harus direncanakan dan disetujui oleh DPR dalam bentuk RAPBN. Apabila telah  disetujui maka pemerintah berkewajiban untuk menjalankannya dalam bentuk APBN. Tetapi, apabila tidak disetujui pemerintah harus menjalankan APBN tahun sebelumnya. Pada akhir tahun anggaran, pemerintah harus mempertanggungjawabkan pelaksanaan APBN di depan DPR. Hal ini  dilakukan agar pengeluaran pemerintah  dapat sesuai dengan kebutuhan dari masyarakat.
Pengeluaran negara terbagi menjadi dua, yakni pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan.
Pengeluaran Rutin
  • Pengeluaran belanja pegawai, seperti menggaji pegawai negeri dan TNI.
  • Pengeluaran belanja barang, seperti membeli alat-alat kantor.
  • Pengeluaran belanja perjalanan dinas pejabat, seperti perjalanan kenegeraan presiden ke luar negeri.
  • Pengeluaran pemeliharaan, seperti pemeliharaan gedung serta alat kantor pemerintah.
  • Pengeluaran rutin  lain-lain, seperti subsidi daerah otonom dan subsidi bahan bakar minyak.
Pengeluaran Pembangunan
  • Pengeluaran pembangunan yang bersifat jasmani, seperti pembangunan jalan dan fasilitas umum serta fasilitas sosial.
  • Pengeluaran pembangunan mental, seperti penataan dan penyuluhan untuk pegawai dan masyarakat.

 

Baca Artikel Lainnya: