Karakteristik Sastra Anak

Karakteristik Sastra Anak

Karakteristik Sastra Anak
Karakteristik Sastra Anak

 

Menurut Davis ada empat sifat sastra anak

(Suwardi Endraswara, 2005: 212), yakni: (1) tradisional, yang tumbuh dari lapisan rakyat sejak zaman dahulu, bentuk mitologi, fabel, dongeng, legenda dan kisah kepahlawanan yang romantik, (2) realistis, yaitu sastra yang memuat nilai-nilai universal, dalam arti didasarkan pada hal-hal terbaik penulis zaman dulu dan kini, (3) popular, yaitu sastra yang berisi hiburan, yang menyenangkan anak-anak, dan (4) teoretis, yaitu yang dikomunikasikan kepada anak-anak dengan bimbingan orang dewasa serta penulisannya dikerjakan oleh orang dewasa pula.

 

Adapun ciri-ciri sastra anak antara lain

Menurut Sarumpaet (www.Sawali.info./2008) meliputi: (1) berisi sejumlah pantangan, berarti hanya hal-hal tertentu yang boleh diberikan, (2) penyajiannya secara langsung, kisah yang ditampilkan memberikan uraian secara langsung, tidak berkepanjangan, (3) memiliki fungsi terapan, yakni menerima pesan dan ajaran kepada anak-anak. Selain itu adalah fantastis, hal ini didasarkan pada perkembangan kejiwaan anak yang sarat dengan dunia fantasi.

 

Dari beberapa ciri sastra tersebut

Menunjukkan bahwa sastra anak yang dipelajari di sekolah turut andil dalam memberikan nilai positif yang sangat signifikan bagi perkembangan kepribadian siswa. Apalagi dilihat dari isi dan bentuknya sangat mudah dicerna dan dipahami oleh anak.

 

Nilai dan fungsi sastra

Untuk memenuhi kebutuhan kemanusiaan sastra anak sangat berperan dalam memberikan pengetahuan dan pendidikan. Ada beberapa tujuan penulisan sastra anak yaitu: (1) menghibur agar anak tertawa dan senang hatinya, (2) memberikan informasi kepada anak tentang fenomena alam semesta dan khayalan, (3) memberikan tuntunan tingkah laku dan perkembangan pola tingkah laku.

Beberapa alasan mengapa anak-anak tertarik denga karya sastra; (1) ada perasaan ingin tahu tentang sesuatu, (2) ada perasaan ingin menemukan fakta-fakta kehidupan dan juga ingin memahami jati dirinya; (3) ada perasaan ingin kembali pada kenyataan, (4) ada perasaan ingin menentramkan hati untuk mencari ketenangan, (5) ada rasa ingin mencari tokoh idola atau figur idaman untuk diteladani dalam hidupnya, (6) rasa ingin mencari kenikmatan sejati. Intinya bahwasannya sastra anak secara detail dapat memperluas cakrawala, memperdalam pengetahuan, dan mengembangkan wawasan sosial.

Pada dasarnya sastra anak memberikan nilai-nilai yang penting bagi perkembangan anak, yaitu nilai intrinsik dan nilai ekstrinsik (Tarigan, 1995: 9-10). Nilai intrinsik meliputi: (1) memberi kesenangan, kegembiraan dan kenikmatan, (2) memupuk mengembangkan imajinasi, (3) memberikan pengalaman-pengalaman baru, (4) memberikan wawasan menjadi prilaku insani, (5) memperkenalkan kesemestaan pengalaman, dan (6) menyampaikan penyebaran sastra dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sedangkan nilai secara ekstrinsik meliputi: (1) memupuk perkembangan bahasa, (2) merangsang perkembangan kognitif atau penalaran anak-anak, (3) memupuk perkembangan kepribadian, dan (4) memupuk perkembangan sosial (sosialisasi).

Dari nilai-nilai yang terdapat dalam sastra anak, setidaknya pembelajaran sastra anak dan dalam wujud apresiasinya turut andil dalam membentuk karakter anak dalam berbahasa, berkepribadian dan berinteraksi sosial serta meningkatan dan mengembangkan cakrawala pengetahuan anak-anak (siswa). Intinya sastra anak bagi anak (siswa) memberikan kontribusi dalam berbagai aspek kedirian yang secara garis besar dikelompokkan ke dalam nilai personal dan nilai pendidikan (Nurgiyantoro, 2005: 36). Nilai-nilai tersebutlah yang akan membantu anak (siswa) dalam membentuk kepribadian anak secara utuh.

Sumber : https://bandarlampungkota.go.id/blog/jenis-dan-contoh-jaringan-hewan/