Kedelai dan Kesehatan Jantung

Kedelai dan Kesehatan Jantung

            Penyakit jantung koroner merupakan masalah medis yang serius bagi banyak negara. Studi yang menyangkut penyakit ini sangat kompleks karena penyebabnya bukan satu macam, tetapi ditentukan oleh sejumlah faktor resiko, antara lain faktor genetik atau sejarah keluarga yang berhubungan dengan penyakit jantung koroner (CHD), hipertensi (tekanan darah tinggi), diabetes mellitus, diet tinggi, lemak dan kalori, dan kadar kolesteol LDL yang tinggi.

Tingkat kolesterol darah dapat ditentukan oleh jenis lemak yang ada dalam makanan yang dikonsumsi (diet). Peningkatan kolesaterol total dan kolesterol LDL dalam darah meningkatkan resiko penyakit jantung koroner. Oleh karena itu, makanan sehari-hari yang dikonsumsi, merupakan unsur dasar yang digunakan untuk mempelajari penyakit jantung koroner.

Atherosklerosis

Atherosklerosis merupakan proses terbesar yang mendahului sebagian besar kasus penyakit jantung koroner. Hal ini berhubungan dengan pembentukkan gumpalan atau plague, yang disebabkan oleh kolesteol darah yang tinggi, dalam arteri jantung dan penyumbatan yang disebabkan plague tersebut. American Heart Association telah memberikan rekomendasi bahwa konsumsi lemak harian adalah maksimal 30% dari konsumsi energi harian dan konsumsi lemak jenuh dikurangi untuk menurunkan kolesterol. Produk-produk kedelai produk yang rendah kandungan asam lemak jenuhnya, bebas kolesterol dan tinggi serat dan protein yang memenuhi rekomendasi tersebut. Pada bulan oktober 1999, Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat telah menyetujui klaim kesehatan dalam hubungan antara kedelai dan kesehatan jantung dengan kalimat sebagai berikut : “25 gram protein kedelai sehari, sebagai bagian diet rendah lemak jenuh dan kelesterol, dapat menurunkan resiko penyakit jantung” (FDA, 2000).Hasil penelitian menunjukkan bahwa suplementasi diet dengan protein kedelai akan menurunkan kolesterol darah. Penurunan kadar kolesterol oleh suplementasi protein kedelai tersebut sama dengan yang disebabkan oleh obat-obat penurun kolesterol yang diproduksi secara sintetik. Terapi diet (terapi melalui pengaturan makanan) untuk menurunkan kolesterol lebih efektif jika menggunakan protein kedelai dibandingkan hanya menggunakan makanan rendah lemak saja karena mengandung isoflavon yang terdiri atas genisteindaidzein dan glicitein. Protein kedelai dapat menurunkan resiko penyakit kardiovaskular dengan cara mengikatkan profile lemak darah. Khususnya, protein kedelai menyebabkanpenurunan yang nyata dalam kolesterol total, kolesterol LDL dan trisliserida serta meningkatkan kolesterol HDL. Karena estrogen telah terbukti menurunkan kolesterol LDL, peranan isoflavon diduga mirip estrogen (estrogen like), menghasilkan efek yang sama.

Dibandingkan dengan protein hewani, protein kedelai menurunkan penyerapan kolesterol pada usus halus demi menginduksi peningkatan ekskresi fekal asam empedu dan steroid. Hal ini mengakibatkan hati lebih banyak merubah kolesterol dalam tubuh menjadi empedu, yang akibatnya dapat menurunkan kolesterol dan meningkatkan aktivitas reseptor kolesterol LDL, yang mengakibatkan peningkatan dalam laju penurunan kadar kolesterol.Di samping hal-hal tesebut diatas terdapat beberapa sebab lain yang menerangkan peranan protein kedelai dalam menurunkan kolesterol. Misalnya, protein kedelai kaya akan asam amino glisin dan arginin yang mempunyai kecenderungan dapat menurunkan sintesa kolesterol. Dilain pihak protein hewani, mempunyai kendungan lisin yang tinggi, yang cenderung untuk meningkatkan insulin darah, dan mendorong sintesis kolesterol. Komponen lain dalam kedelai yang dapat menurunkan kolesterol antara lain : serat, saponin dan phitosteral. Serat dapat menurunkan kadar kolesterol darah. Total serat makanan sangat penting dalam menjaga kesehatan yang baik. Serat larut dan tidak larut dalam kedelai mempunyai efek yang sangat menguntungkan bagi kesehatan.Saponin secara kimia mirip dengan kolesterol dan dapat memblokir penyerapan kolesterol dan meningkatkan sekresi kolesterol dari dalm tubuh. Phitosterol dapat menurunkan kolesterol dengan cara berkompetisi dengan kolesterol dalam proses penyerapan diusus halus.

Baca juga: