LUNTURNYA MORAL DAN ETIKA DI INDONESIA

LUNTURNYA MORAL DAN ETIKA DI INDONESIA – Bangsa Indonesia ketika ini sedang merasakan suatu krisis secara mendasar dan menyeluruh. Banyaknya masalah yang berupa Ancaman, Hambatan, Tantangan dan Gangguan (AGHT) yang dihadapi Indonesia datang bertubi-tubi. Ditambah lagi masalah-masalah bencana alam yang memang telah menjadi unsur dari alam Indonesia yang memang akhir-akhir ini tak ramah dan barangkali yang terakhir yang lumayan menganggu yaitu masalah internasional dengan negara-negara tetangga sampai berujung buruknya perseprsi Indonesia di mata internasional.

Krisis yang dirasakan Indonesia ini menjadi paling multidimensional yang saling mengaji. Mulai dari krisis ekonomi yang tidak kunjung berhenti, sehingga dominan pula pada krisis social dan politik, yang pada perkembanganya malah menyulitkan upaya pemulihan ekonomi. Konflik horizontal dan vertical yang terjadi dalam kehidupan social adalahsalah satu dampak dari seluruh krisis yang terjadi, yang pasti akan mencetuskan disintegrasi bangsa. Apalagi bila menyaksikan bahwa bangsa Indonesia adalahbangsa yang plural laksana beragamnya suku, kebiasaan daerah, agama dan sekian banyak aspek politik lainnya, serta situasi geografis Negara kepulauan yang tersebar. Semua ini mengundang konflik yang bisa merugikan dan mengganggu persatuan dan kesatuan bangsa.

Terjadinya penurunan moral itu pada hakikatnya tidak terlepas dari hal internal (keluarga) sebab dari dalam keluargalah hal utama yang bisa menghambat atau minimal seorang anak bisa dikendalikan. Misalnya saja dengan tuntunan dan arahan dari orang tua, seorang anak diberi nasihat-nasihat yang baik tidak melulu pada ketika berkumpul bareng saja, tetapi di sela-sela masa-masa yang terdapat hendaknya diberi arahan yang baik.

Seorang anak pun harusnya dikontrol mengenai pergaulannya kapan waktunya guna main dan menggarap pekerjaan ataupun tugas-tugasnya yang lain. Serta memberi batas pergaulan remaja supaya tidak terbawa teman-temannya yang barangkali penghuni pergaulan bebas (negatif).

Faktor-faktor yang memprovokasi menurunnya moral dan etika generasi muda

1. Longgarnya pegangan terhadap agama
Sudah menjadi tragedi dari dunia maju, dimana segala sesuatu nyaris dapat dijangkau dengan ilmu pengetahuan, sampai-sampai keyakinan pelbagai mulai terdesak, kepercayaan untuk Tuhan bermukim simbol, larangan-larangan dan suruhan-suruhan Tuhan tidak diindahkan lagi. Dengan longgarnya pegangan seseorang pada doktrin agama, maka hilanglah kekuatan pengontrol yang terdapat didalam dirinya. Dengan demikian satu-satunya perangkat pengawas dan pengatur moral yang dimilikinya ialah masyarakat dengan hukum dan peraturanya. Jika masing-masing orang teguh keyakinannya untuk Tuhan serta menjalankan agama dengan sungguh-sungguh, tidak butuh lagi adanya pemantauan yang ketat, sebab setiap orang telah dapat mengawal dirinya sendiri, tidak inginkan melanggar hukum-hukum dan ketentuan-ketentuan Tuhan.

2. Kurang efektifnya pembinaan moral yang dilaksanakan oleh rumahtangga, sekolah maupun masyarakat.
Pembinaan moral yang dilaksanakan oleh ketiga institusi ini tidak berlangsung dengan semestinya. Pembinaan moral di lokasi tinggal tangga contohnya harus dilaksanakan sejak anak masih kecil, cocok dengan keterampilan dan umurnya. Karena masing-masing anak lahir, belum memahami mana yang benar dan mana yang salah, dan belum tahu batas-batas dan peraturan moral yang tidak berlaku dalam lingkungannya. Tanpa dilazimi menanamkan sikap yang dirasakan baik guna menumbuhkan moral, anak-anak akan diagungkan tanpa mengenal moral itu. Pembinaan moral pada anak di lokasi tinggal tangga bukan dengan teknik menyuruh anak menghafalkan rumusan mengenai baik dan buruk, tetapi harus dibiasakan. Zakiah Darajat mengatakan, moral bukanlah suatu latihan yang dapat dijangkau dengan mempelajari saja, tanpa membudayakan hidup bermoral dari semenjak kecil. Moral tersebut tumbuh dari tindakan untuk pengertian dan tidak sebaliknya. Seperti halnya lokasi tinggal tangga, sekolah juga dapat memungut peranan yang urgen dalam pembinaan moral anak didik. Hendaknya bisa diusahakan supaya sekolah menjadi lapangan baik untuk pertumbuhan dan pertumbuhan mental dan moral anak didik. Di samping lokasi pemberian pengetahuan, pengembangan bakat dan kecerdasan, sekolah adalahlapangan sosial untuk anak-anak, dimana perkembangan mental, moral dan sosial serta segala aspek jati diri berjalan dengan baik. Bagi menumbuhkan sikap moral yang demikian itu, edukasi agama dilalaikan di sekolah, maka didikan agama yang diterima di lokasi tinggal tidak bakal berkembang, bahkan barangkali terhalang. Selanjutnya masyarakat pun harus memungut peranan dalam pembinaan moral. Masyarakat yang lebih bobrok moralnya butuh segera dibetulkan dan dibuka dari diri sendiri, family dan orang-orang terdekat dengan kita. Karena kehancuran masyarakat tersebut sangat besar pengaruhnya dalam pembinaan moral anak-anak. Terjadinya kehancuran moral di kalangan pelajar dan generasi muda sebagaimana dilafalkan di atas, sebab tidak efektifnya keluarga, sekolah dan masyarakat dalam pembinaan moral. Bahkan ketiga lembaga itu satu dan lainnya saling bertolak belakang, tidak seirama, dan tidak kondusif untuk pembinaan moral.

3. Dasarnya mesti kebiasaan materialistis, hedonistis dan sekularistis.
Sekarang ini tidak jarang kita dengar dari radio atau bacaan dari surat kabar mengenai anak-anak sekolah menengah yang ditemukan oleh gurunya atau polisi mengantongi obat-obatan terlarang, gambar-gambar cabul, alat-alat kontrasepsi laksana kondom dan benda-banda tajam. Semua alat-alat tersebut seringkali digunakan guna hal-hal yang bisa merusak moral. Namun, fenomena penyimpangan itu terjadi sebab pola hidup yang semata-mata memburu kepuasan materi, kesukaan hawa nafsu dan tidak mengindahkan nilai-nilai agama. Timbulnya sikap itu tidak dapat dilepaskan dari derasnya arus kebiasaan matrealistis, hedonistis dan sekularistis yang disalurkan melewati tulisan-tulisan, bacaan-bacaan, lukisan-lukisan, siaran-siaran, pertunjukan-pertunjukan dan sebagainya. Penyaluran arus kebiasaan yang demikian tersebut didukung oleh semua penyandang modal yang semata-mata mengeruk deviden material dan memanfaatkan kecenderungan semua remaja, tanpa menyimak dampaknya untuk kerusakan moral. Derasnya arus kebiasaan yang demikian diperkirakan termasuk hal yang sangat besar andilnya dalam menghancurkan moral semua remaja dan generasi muda umumnya.

4. Belum adanya keinginan yang betul-betul dari pemerintah.
Pemerintah yang diketahui memiliki dominasi (power), uang, teknologi, sumber daya insan dan sebagainya tampaknya belum menunjukkan keinginan yang betul-betul untuk mengerjakan pembinaan moral bangsa. Hal yang demikian semakin diperparah lagi oleh adanya ulah beberapa elit penguasa yang semata-mata memburu kedudukan, peluang, kekayaan dan sebagainya dengan cara-cara tidak mendidik, laksana korupsi, kolusi dan nepotisme yang sampai kini belum adanya tanda-tanda guna hilang. Mereka asyik memperebutkan kekuasaan, pelajaran dan sebagainya dengan cara-cara tidak terpuji itu, dengan tidak memperhitungkan dampaknya untuk kerusakan moral bangsa. Bangsa jadi ikut-ikutan, tidak mau memperhatikan lagi apa yang dianjurkan dan disarankan pemerintah, sebab secara moral mereka telah kehilangan daya efektivitasnya. Sikap beberapa elit penguasa yang demikian tersebut semakin memperparah moral bangsa, dan telah waktunya dihentikan. Kekuasaan, uang, teknologi dan sumber daya yang dipunyai pemerintah seharusnya dipakai untuk merumuskan konsep pembinaan moral bangsa dan aplikasinya secara bersungguh-sungguh dan berkesinambungan.

Beberapa hal lain yang mengakibatkan menurunnya moral dan etika generasi muda ketika ini merupakan:
a. Salah pergaulan, bilamana kita salah memilih pergaulan anda juga dapat ikut-ikutan untuk mengerjakan hal yang tidak baik
b. Orang tua yang tidak cukup perhatian, bilamana orang tua tidak cukup memperhatikan anaknya, bisa-bisa anaknya merasa tidak nyaman berada di lokasi tinggal dan selalu terbit rumah. Hal ini dapat menyebabkan remaja terpapar pergaulan bebas.
c. Ingin mengekor tren, dapat saja tadinya para remaja merokok ialah ingin tampak keren, padahal urusan tersebut sama sekali tidak benar. Lalu bila sudah mengupayakan merokok dia pun akan mengupayakan hal-hal yang lainnya laksana narkoba dan seks bebas.
d. Himpitan ekonomi yang menciptakan para remaja stress dan perlu tempat pelarian.

Sumber : https://goo.gl/e6p8DC