Masyarakat Mandailing

Masyarakat Mandailing

Masyarakat Mandailing

Masyarakat Mandailing adalah salah satu bagian dari Kabupaten Labuhan Batu yang berada di Provinsi Sumatera Utara yang didiami oleh beberapa sukuyaitu: Batak Toba, Dairi, Batak Simalungun, Aceh, Padang, Jawa dan Sunda. Masyarakat Mandailing merupakan kelompok masyarakat yang memiliki ikatan yang di persatukan oleh etnis yang kuat yang di persatukan oleh bahasa, kesenian, serta adat istiadat yang ada pada masyarakat Mandailing.

  1. Sistem Kekerabatan Masyarakat Mandailing

Masyarakat Mandailing memegang teguh adat istiadatnya, yang lazim yang disebut adat Dalian Na Tolu, karena setiap pelaksanaan aktivitas yang didasarkan kepada kaidah-kaidah adat, seperti pelaksanaan berbagai upacara, yang menganut sistem kekerabatan Dalian Na Tolu, yang secara harfiah diartikan sebagai tungku yang penyangganya terdiri dari 3 (tiga) agar tungku tersebut dapat seimbang. Dan secara Etimologi berarti suatu tumpunan yang komponannya (unsur) terdiri dari 3 (tiga). Dalian Na tolu pada masyarakat Mandailing yang merupakan tumpuan. Dalam upacara-upacara adat sistem kekerabatan Dalian na Tolu ini memegang peranan keputusan-keputusan.Dalian Na Tolu terdiri dari 3 kelompok yaitu

  1. Kahanggi atau Suhut, yaitu suatu kelompok kelarga yang semarga atau yang mempunyai garis keturunan yang sama dengan satu huta (kampung) yang merupakan Bonabulu (pendiri kampong)
  2. Anak Boru, yaitu kelompok keluarga yang mengambil istri dari kelompok Suhut atau Kahanggi.
  3. Mora, yaitu tingkatan keluarga yang oleh Suhut mengambil Boru(istri) dari kelompok ini.
  4. Sistem Mata Pencaharian Masyarakat Mandailing

Tapi akhir-akhir ini di Mandailing ada tambang emas jadi orang berbondong-bondong bekerja di tambang emas yang kata mereka penghasilannya lebih banyak di bandingkan naik becak dan juga supir angkutan.

Masyarakat Mandailing sebahagian bermata pencaharian sebagai petani bercocok tanam padi di sawah dan lading, sehingga Masyarakat Mandailing lebih berorientasi dengan alam. Selain pertanian, pertenakan juga salah satu mata pencaharian masyarakat Mandailing. Hewan yang diternakan antara lain kerbau, sapi, ayam, kambing, dan bebek. Selain bercocok tanam dan bertenak, mata pencaharian mereka juga ada sebagai supir angkot dan juga tukang becak. Hal tersebut dikarenakan untuk memenuhi keperluan hidup sehari-hari.

  1. Sistem Kepercayaan Masyaraka Mandailing

Masyarakat Mandailing dahulu memeluk sistem kepercayaan lama (animisme) yang disebut Si Pelebegu, Dalam masa kepercayaan Si Pelebegudi masa lalu itu orang-orang Mandailing menyembah roh-roh dari para leluhur (nenek moyang) mereka yang disebut Begu. Menurut sistem kepercayaan animism Si Pelebegu ini, jumlah Begu tidak hanya satu tetapi banyak dan menghuni berbagai tempat. Ada yang menghuni hutan, pohon-pohon kayu besar, sungai, batu besar, dan sebagainya.Misalnya begu yang bernama Begu Tagasan dipercayai sebagai begu pelindung. Dewasa ini masyarakat Mandailing telah menganut agama islam pada abad ke-20

  1. Upacara adat

Upacara adalah suatu rangkaian khusus yang mempunyai jalan atau aturan-aturan dan tatanan yang khusus yang dilakukan oleh suatu komunitas tertentu, seperti halnya upacara adat yang ada pada masyarakat Mandailing. Upacara adat pada masyarakat merupakan upacara yang melibatkan seluruh masyarakat dalam setiap unsur misalnya dalam mempersiapkan keperluan upacara adat. Musyawarah mufakat dan persiapan yang lainnya seperti mempersiapkan makanan, tenda dan sebagainya.

Sebelum upacara dimulai, maka upacara adat perencanaan kegiatan yang namanya Horja (pekerjaan) yang berhubungan dengan hal urusan adat diperlukan kata sepakat, hasil kesepakatan atau musyawarah adat tersebut namanya domu ni tahi. Ada 3 tingkatan horja yang harus menentukan siapa-siapa yang harus hadir di paradatan tersebut, yaitu: a) Horja dengan landasannya memotong ayam, horja ini yang di undang hanya kaum kerabat terdekatnya dan undangannya cukup dengan hanya pemberitahuan saja.b)Horja dengan landasannya memotong kambing, horja ini biasanya disebut dalam paradatan yaitu pangkupangi, yang diundang selain dari Dalian Na Tolu juga ikut namora dan natoras dikampung tersebut Raja Panusunan(orang tua di kampung tersebut). c) Horja dengan landasannya memotong kerbau, horja ini dimana semua unsur-unsur (lembaga-lembaga) adat diundang, baik yang ada di huta (kampung) tersebut maupun yang ada diluarhuta, seperti Raja-raja Torbing Balok, Raja-raja dari desa  na walu dan Raja Panusunan, maka pelaksanaan dalam Tortor Mangalehen Goar haruslah horja dengan landasannya memotong kerbau. Makna horja tersebut menunjukkan rasa syukur kepada Allah SWT, melaksanakan, memelihara, mengembangkan, dan melestarikan seluruh nilai-nilai leluhur yang sudah berumur ratusan tahun, rasa kebersamaan, rasa tolong-menolong. Adapun Upacara adat yang sering dilakukan masyarakat Mandailing adalah a) Horja Siulaon (Upacara Adat Berkarya), b) Horja siluluton (Upacara adat Kematian), c) Hasosorang ni Daganak (Upacara adat Kelahiran), d) Horja Siriaon (Upacara Adat Perkawinan), jadi dari keempat adat tersebut tortor mangalehen goar dilaksanakan ketika Horja Siriaon pada upacara adat dan perkawinan.


Sumber: https://student.blog.dinus.ac.id/handay/seva-mobil-bekas/