Sejarah dan Perkembangan Pasar Modal Indonesia

Sejarah dan Perkembangan Pasar Modal Indonesia

Pada dasarnya, pasar modal (capital market) merupakan pasar untuk bermacam instrumen keuangan jangka panjang yang bisa diperjual belikan, baik didalam wujud utang ataupun modal sendiri. Instrumen-instrumen keuangan yang diperjualbelikan di pasar modal seperti saham, obligasi, waran, right, obligasi konvertibel, dan bermacam produk turunan (derivatif) seperti opsi (put atau call).

Di didalam Undang-Undang Pasar Modal No. 8 Tahun 1995, pengertian pasar modal dijelaskan bersama lebih spesifik sebagai kegiatan yang bersangkutan bersama Penawaran Umum dan Perdagangan Efek, perusahaan publik yang tentang bersama Efek yang diterbitkannya, dan juga instansi dan profesi yang tentang bersama Efek. Pengertian pasar modal berdasarkan ketetapan presiden No. 52 th. 1976 perihal pasar modal mengatakan bahwa pasar modal adalah Bursa Efek seperti yang dimaksud didalam undang-undang No. 15 th. 1952. menurut undang-undang tersebut, bursa adalah gedung atau ruangan yang ditetapkan sebagai kantor dan area kegiatan perdagangan efek, tetapi surat miliki nilai yang dikategorikan efek adalah saham, obligasi dan juga surat bukti lainnya yang umum dikenal sebagai efek.

Sejarah dan perkembangan pasar modal di Indonesia bisa diklasifikasikan sebagai berikut..
Di Indonesia formal di awali bersama didirikannya Vereniging voor de effectenhandel di Jakarta tanggal 14 Desember 1912 dan di surabaya tanggal 11 januari 1925
Tanggal 10 Agustus 1977, Presiden RI formal terhubung ulang Pasar Modal di Indonesia, ditandai bersama PT Semen Cibinong sebagai perusahaan yang go public pertama kali dan PT Danareksa sebagai perusahaan penjamin emisi (underwriter)
Tanggal 13 juli 1992 BEJ (Bursa Efek Jakarta) diswatanisasikan menjadi PT BEJ dan beralihnya faedah Bapepam berasal dari Badan Pelaksana Pasar Modal menjadi BadanPengawasa Pasar Modal
Tahun 1995, disusun Undang-undang No.8 perihal Pasar Modal.
Tanggal 22 Mei 1995, BEJ meluncurkan Jakarta Automated Trading System (JATS)
Bulan Juli 2000, BEJ menerapkan perdagangan tanpa warkat (Scripless Trading) bersama obyek untuk tingkatkan likuiditas pasar dan jauhi momen saham hilang dan pemalsuan saham dan juga untuk mempercepat proses penyelesaian transaksi
Tahun 2003, tersedia rencana pergantian Undang-undang No.8 pada perihal Jasa Keuangan dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Manfaat Pasar Modal
Manfaat melaksanakan investasi di pasar modal bisa dipandang berasal dari segi pemodal (yang belanja sekuritas) dan berasal dari segi emiten (yang menerbitkan sekuritas).
Dari segi emiten, keberadaan pasar modal dibutuhkan sebagai suatu alternatif untuk menghimpun dan eksternal jangka panjang tanpa mengfungsikan intermediasi keuangan. Di samping itu, pasar modal sangat mungkin perusahaan menghimpun dana didalam wujud equity.
Kebutuhan bakal dana ini menjadi jadi besar jikalau kegiatan perusahaan- perusahaan mengalami peningkatan. Salah satu indikator peningkatan kegiatan usaha adalah kuantitas kredit yang diberikan oleh bank-bank kepada perusahaan- perusahaan. Sayangnya sektor perbankan, cuma bisa memberikan dana didalam wujud kredit. Dalam teori keuangan dijelaskan bahwa pemakaian utang yang sangat besar justru bisa tingkatkan cost modal perusahaan. Dengan kata lain, untuk menurunkan cost modal, perusahaan bisa saja suatu sementara kudu tingkatkan modal sendiri. Pasar modal sangat mungkin perusahaan menghinpun dana didalam wujud modal sendiri.
Bagi pemilik dana (pemodal), keberadaan pasar modal sangat dibutuhkan sebagai alternatif untuk melaksanakan investasi terhadap financial aset. Dengan keberadaan pasar modal, tersedia bermacam finansial asset bersama risiko yang berbeda-beda. Pemodal bisa menentukan finansial asset sesuai bersama preferensi risikonya. Sejauh berlaku jalinan yang positif pada risiko dan tingkat keuntungan, pemodal bersedia menentukan investasi yang lebih berisiko jikalau mereka bisa nengharapkan untuk meraih keuntungan yang lebih besar. Secara umum, faedah berasal dari keberadaan pasar modal adalah:
Menyediakan sumber pembiayaan (jangka panjang) bagi dunia usaha sekaligus sangat mungkin alokasi dana secara optimal.
Memberikan wahana investasi yang bervariasi bagi investor agar sangat mungkin untuk melaksanakan diversifikasi. Alternatif investasi memberikan potensi keuntungan bersama tingkat risiko yang bisa diperhitungkan.
Menyediakan leading indicator bagi perkembangan perekonomian suatu negara.
Penyebaran kepemilikan perusahaan hingga lapisan penduduk menengah.
Penyebaran kepemilikan, keterbukaan dan profesionalisme menciptakan iklim mengupayakan yang sehat dan juga mendorong pemakaian manajemen profesional

Baca Juga :