Sepi Peminat, Pelamar Jenjang S3 Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia

Sepi Peminat, Pelamar Jenjang S3 Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia

Sepi Peminat, Pelamar Jenjang S3 Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia
Sepi Peminat, Pelamar Jenjang S3 Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia

Kursi beasiswa pendidikan lazimnya jadi rebutan.

Tetapi tidak untuk beasiswa unggulan dosen Indonesia (BUDI) luar negeri. Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) mengumumkan bahwa pelamar BUDI sepi peminat tahun ini.

Dirjen Sumber Daya Iptek-Dikti Kemenristekdikti Ali Ghufron Mukti mengatakan alokasi beasiswa BUDI tahun ini dipatok 500 orang. Tetapi setelah serangkaian tahapan seleksi, baru terjaring 351 orang pelamar BUDI.

’’Jumlah ini pasti nanti menyusut lagi sampai keputusan akhir,’’ katanya di Jakarta (28/8).

Guru besar UGM Jogjakarta itu menuturkan sebenarnya alokasi beasiswa

program BUDI ini sangat penting. Diantaranya untuk menambah jumlah dosen bergelar doktor di Indonesia. Sebab sejak awal BUDI ini dikhususnya untuk beasiswa S3 bagi para dosen unggulan tanah air.

Dia berharap tahun depan pelamar BUDI bisa meningkat. Supaya proses persaingannya bisa lebih kompetitif. Para dosen yang masih bergelar S2, didorong supaya memiliki ijazah S3. Sebab ijazah S2 merupakan standar minimal untuk menjadi dosen.

Ghufron mengatakan salah satu negara jujukan beasiswa luar negeri dosen Indonesia adalah Inggris atau United Kingdom (UK). Dia menjelaskan Kemenristekdikti baru saja menjalin kerjasama pendidikan tinggi dengan Coventry University, Inggris Raya. Kerjasama ini diteken langsung antara Ghufron dengan delegasi Coventry University Mike Hardy.

Menurut mantan Wakil Menkes itu dengan beasiswa ini, setiap tahun pemerintah

bisa mengirim 20 sampai 30 orang dosen untuk beasiswa kuliah di Coventry University. Salah satu keunggulan kampus ini adalah pada pendidikan keperawatan.

’’Dengan mengirim dosen-dosen keperawatan ke Coventry University, kita berharap lulusan keperawatan Indonesia bisa berstandar internasional,’’ jelasnya.

Ghufron mengatakan profesi perawat saat ini cukup besar permintaannya. Banyak negara seperti Jepang, membutuhkan tenaga kerja terampil yakni perawat. Tetapi belum banyak diisi oleh perawat lulusan kampus Indonesia.

 

Baca Juga :